Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar I Gusti Ngurah Bagus Mataram di Denpasar, mengatakan pelatihan bagi "pemangku dan serati banten" itu bertujuan meningkatkan pemahaman nilai-nilai filosofi upakara (sesajen) serta meningkatkan pemahaman filosofi dari upacara keagamaan di Pulau Dewata. Ia mengatakan kegiatan tersebut telah menjadi agenda rutinitas Pemerintah Kota Denpasar yang melibatkan para pemimpin ritual keagamaan dan pembuat sesaji yang selalu tidak pernah terlepas dari tugas pemimpin "upacara yadnya" di pura atau di rumah warga.
Hal yang sama juga menjadi peran bagi para pembuat sesaji yang menjadi satu kesatuan dalam pelaksanaan upacara "yadnya", karena dalam upacara pada dasarnya salah satu dari tiga kerangka agama Hindu, yakni Tattwa, Susila dan Upakara. "Untuk itu saya merasa bahagia terselenggaranya acara tersebut. Kegiatan ini juga merupakan momentum para `pemangku` dalam menyamakan persepsi dan meningkatkan komunikasi menjalankan kewajiban sebagai pelayan masyarakat," ujarnya.
Dengan terselenggaranya kegiatan itu, Dewa Adi berharap para "serati dan pemangku" nantinya dapat memberikan satu pemahaman yang benar kepada masyarakat karena pelaksanaan upacara agama itu bukan merupakan pemborosan."Dengan memberikan pemahaman tentang hakekat upakara yang benar, sehingga masyarakat tidak lagi berpikir bahwa upacara itu menghambur-hamburkan uang dan sebagainya. Tetapi yang paling penting mereka bisa memahami hakekat nilai-filosofis tentang pelaksanaan upacara itu sendiri," katanya.
Menyikapi komitmen Pemerintah Kota Denpasar untuk melestarikan adat budaya utamanya budaya Bali yang bernafaskan Hindu kaitannnya dengan pelaksanaan di masyarakat, PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Bali berkomitmen menerapkannya pemberdayaan masyarakat berbasis adat budaya local utamanya masyarakat yang berdampak kaitannnya dengan keberadaan perusahaan (Ring I), kerjasama ini salah satu bagian Corporate Social Responsibility (CSR).
PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Bali sesuai misi perusahaan yaitu Bersahabat dengan lingkungan, dan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) telah melakukan pendampingan dan pembinaan dalam melakukan program pengembangan UMKM di sekitar wilayah pembangkit. Pola program yang dilakukan adalah dengan membentuk suatu Kelompok/Sekehe binaan dalam satu wilayah berdasarkan rekomendasi dari Pemerintah setempat.
Pengembangan Sekehe Srati Banten Yadnya Santi Berawal dari Binaan CSR di Banjar Ambengan Koperasi Bangkung Sari telah menjadi koperasi yang mandiri, dalam perkembangannya di bentuklan Sekehe ini memberdayakan masyarakat terutama ibu rumah tangga yang meminati pekerjaan pembuat banten.
Tujuan Program Sekehe Srati Yadnya Santhi Banjar Ambengan adalah pembuatan Banten sebagai usaha bagi kelompok ibu-ibu sebagai basis pemberdayaan masyarakat. Selain untuk menambah penghasilan bagi ibu-ibu, juga untuk mengangkat pembuatan Banten sebagai bentuk budaya yang masih dilakukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.
PROSES PERENCANAAN
Proses perencanaan dimulai dari tahap identifikasi dan survey awal, FGD Program dengan masyarakat Banjar Ambengan Kelurahan Pedungan, sosialisasi program kepada masyarakat Banjar Ambengan Kelurahan Pedungan, pembentukan kelompok serta pengurus Sekehe Serati Banten Yadnya Santhi, penyusunan jadwal aksi kegiatan berdasarkan kesepakatan sekehe.
PELAKSANAAN PROGRAM
Saat ini, program menerima pesanan Banten dari Banjar saat ada upacara yang akan dilakukan. Ada 18 orang yang tergabung dalam kelompok yang membuat Banten. Kelompok juga sudah bisa membuat banten untuk sarana upacara skala besar.
HAMBATAN
Pemesanan pembuatan Banten masih dari Banjar dan beberapa dari luar wilayah. Selain itu, pelatihan pembuatan Banten tidak bisa begitu saja dilakukan karena harus menunggu ada acara yang membutuhkan Banten tertentu kemudian bisa dilakukan pelatihan. Hal ini karena pembuatan Banten adalah sesuatu yang sakral dan biayanya yg tidak sedikit.
Secara Compass Sustainability, program Sekehe Srati Yadnya Santhi Banjar Ambengan ini dapat dilihat dari 4 sisi yaitu ekonomi, sosial, lingkungan, dan keberlanjutan. Secara ekonomi, program ini sudah mampu mengurangi pengangguran dengan menjadikan ibu-ibu dari Banjar Ambengan sebagai pengelola Sekehe Srati Yadnya Santhi Banjar Ambengan, selanjutnya ke depannya bisa menambah pendapatan bagi para pengelola. Secara sosial, program ini mampu menciptakan satu kelompok yang di dalamnya terdapat kohesi sosial yakni kelompok pengelola Srati Banten. Dari sisi lingkungan, program Sekehe Srati Yadnya Santhi Banjar Ambengan tidak menunjukkan ada hubungan dengan lingkungan tetapi hanya dengan budaya. Dilihat dari keberlanjutannya, program Sekehe Srati Yadnya Santhi Banjar Ambengan mampu menciptakan keberlanjutan bagi Banten yang menjadi sarana upakara masyarakat Bali yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan CSR yang sudah dilaksanakan di Sekehe Srati Yadnya Santhi Banjar Ambengan, antara lain:
a. Pelatihan pembuatan banten skala besar
b. Pemberian bantuan taman tanaman untuk sarana upacara
c. Pemberian bantuan kios untuk warung banten
d. Pemberian bantuan modal usaha untuk warung banten
e. Pemberian 3 lusin baju seragam untuk anggota kelompok
Memberdayakan Ibu-ibu merupakan kegiatan yang tepat. Mereka berperan dalam mengatur keuangan keluarga dan dari kegiatan ini mereka dapat memperoleh tambahan penghasilan. Pendapatan mereka dari kegiatan Srati Banten ini sangat berguna dalam menunjang perekonomian mereka sehari-hari.