Diawali dengan keberadaan Duwe Lembu yang sangan memprihatinkan yang dulunya liar lepas sekitar tahun 1970, Duwe lembu berjumlah 3 ekor, di kandangkan dengan ukuran 4m x 5m dengan pagar pohon-pohonan di ikat dengan tali bambu, tempat berteduhnya sarna seperti sapi biasa (bada) yang dipelihara warga kebanyakan, untuk pemeliharaan di laksanakan oleh Banjar Adat Desa Pakraman Taro Kaja, secara bergilir kraman Banjar Adat menggunakan tanda tugas dengan Urak (bambu selempeng bertulisan ngaritang Duwe menggunakan huruf Bali) mencarikan rumput yang berda di areal Duwe tersebut. Ada juga yang dengan tulus memberikan pohon pisang, dan juga rumput atau dedaurian yang lainya. Kemudian tahun 1978 berjurnlah 5 ekor pelasanaan pemeliharaan masih tetap seperti sebelumnya dan ada penambahan jumlah samapai 7 ekor dan terus bertambah di tahun 1991 sudah berjumlah 12 ekor di tahun inisudah di perhatikan oleh Dinas Petemakan dan di buatkan kandang di sisi barat Pura Dalem Pingit dengan kandang bentuk pararel mengadap ke utara dan ke Timur, namun sudah ada tenaga khusus untuk memberi pakan,sedangkan pakan masih di siapkan oleh Banjar Adat secara bergilir dengan menggunakan tanda tugas dengan Urak (bambu selempeng bertulisan ngaritang Duwe menggunakan huruf Bali) Duwe lembu terus berkembang.
Di tahun 1996 sudah rnencapai jumlah 24 ekor pada masa ini keadaan Duwe sangat memprihatinkan terutama kekurang pakan sehingga menyebabkan kondisinya sangat kurus dan ada yang sampai tidak bisa berjalan. Dengan kondisi seperti ini rnasyarakat berinisiatif untuk rnelepas Duwe dengan cara mernbuat pagar di sekeliling kawasan Pura Dalem Pingit bagian barat sampai di pinggir sisi timur sema genit di sebelah utara uma ( Gajah sekarang dan si sebelah selatan dari tegal yang di sakap oleh krama Hak ini juga tidak efektif sehingga kondisi Duwe lernbu juga rnemprihatinkan.
Di tahun 2001 di perluas areal pelepasannya yaitu sampai perbatasan Talung Tambi dan di selatan sampai di perbatasan Banjar Delodsema, perkembangan jurnlah Duwe Lembu sangat signifikan mencapai 164 dari data petemakan Kabupaten Gianyar, sehingga Duwe sampai ke Ladang-Ladang masyarakat. nama Tegalan yang ada di Desa Pakraman Taro Kaja seperti : (1) Tegal Banjar Swan, (2) Tegal Jaba Kuta, (3) Tegal Lesit Kauh, (4) Tegal Lesit Kaja, (5) Tegal Taro Kaja, (6) Tegal Gornbrang, (7) Tegal Ootan, (8) Tegal Batan Tukad,(9) Tegal Dukuh, (10) Tegal Pungutan, (11) Tegal Sampisaya Kaja, (12) Tegal Sampisaya Kelod,. (13) Tegal Tambling, (14) Tegal Paluk, (15) Tegal Pikat, (16) Tegal Legu, (17) Tegal Abangan, dan nama Sawab di Desa Pakraman Taro Kaja seperti: (1) Uma Blimbing, (2) Uma Semuing, (3) Uma Kebon, (4) Urna Glagah, (5) Urna Suwung, (6) Uma Yeh Kumpi, (7) Uma Siraman, (8) Uma Dalern, (9) Uma Desa, (10) Uma Boni, (11) Uma Nunggal, (12) Uma Pasek, (13) Uma Delod Tegeh, (14) Uma Kelodan, (15) Uma Labak, (16) Uma Bakungan. (tegalan dengan 17 nama dan uma dengan 16 nama) sehingga menjadi 33 nama.Tahun 2006 jumlah Duwe di kandangka namun masih lepas dengan areal kandang berada di sisi selatan dari Pura Dalem Pingit, dengan makin sempitnya areal kandang maka Ouwe makin berkurang, namun pengirangan tidak jelas kalau yang meninggal pada saat itu yang sampai di kubur hanya 12 ekor selainya tidak di ketahui (niskala) sampai pada jumlah terakhir 29 ekor. Tapi kondisi masih memprihatinkan walaupun sudah di belikan pakan berupa padang gajah yang pembelianya menggunakan dana dari kontribusi Wisata Gajah.
Tahun 2010 ada dari anak-anak muda berinisiatif untuk membangun monomen Ouwe Lembu dengan perkumpulan yang di sebut dengan "Gog Green" terkumpulah dana, pada saat itujuga terbentuk Panitia Pembangunan Monornen yang di Ketuai oleh I Wayan Margi, Sekretaris I Made Madriana, Bendahara I Wayan Rapa, serta dengan anggota-angota. Dan Monomen dibangun oleh tukang dari Taro Kelod pemborong I Wayan Selem, biaya pembangunan tersebut menghabiskan biaya Rp. 32.231.000,- ( Tiga Puluh Dua Juta Dua Ratus Tiga Puluh Satu Ribu Rupiah).
Tujuan program Konservasi Lembu Putih Taro adalah untuk melestarikan tukik berbasis pemberdayaan masyarakat. Masyarakat menjadi pengelola konservasi Lembu Putih Taro, hal ini dapat mengurangi angka pengangguran di Desa Taro serta masyarakat memperoleh informasi dan pengetahuan mengenai pelestarian lembu putih, dan mampu membangun kohesi sosial.
PROSES PERENCANAAN
Program Identifikasi dan survey awal, FGD Program dengan Yayasan Lembu Putih Desa Taro, sosialisasi program kepada program konservasi lembu putih di Desa Taro, menyusunan jadwal aksi kegiatan berdasarkan hasi FGD.
PELAKSANAAN PROGRAM
Saat ini, program ini sudah mampu melestarikan hewan endemik Bali dengan memberdayakan masyarakat desa setempat dan menjadikan Konservasi Lembu Putih Taro sebagai destinasi wisata Bali. Saat ini ada 8 orang bertugas mengelola Ekowisata Lembu Putih Taro. Selain mengelola ekowisata, pengelola juga bertugas untuk mengolah kotoran lembu putih menjadi biogas yang dipakai untuk keperluan konservasi, dan membuat pupuk kompos serta dijual ke masyarakat setempat.
HAMBATAN
Jumlah pengunjung yang datang ke konservasi lembu putih taro belum mengalami peningkatan yang signifikan.
Secara Compass Sustainability, program Konservasi Lembu Putih Taro ini dapat dilihat dari 4 sisi yaitu ekonomi, sosial, lingkungan, dan keberlanjutan. Secara ekonomi, program ini sudah mampu mengurangi pengangguran dengan menjadikan masyarakat sebagai pengelola Konservasi Lembu Putih Taro, selanjutnya ke depannya bisa menambah pendapatan bagi para pengelola dengan penjualan kompos, biogas maupun biourin. Secara sosial, program ini mampu menciptakan satu kelompok yang di dalamnya terdapat kohesi sosial yakni kelompok pengelola konservasi. Dari sisi lingkungan, program Konservasi Lembu Putih Taro mampu melestarikan keberadaa lembu puih yang apabila tidak dijaga akan menciptakan kepunahan. Dilihat dari keberlanjutannya, program Konservasi Lembu Putih Taro ini mampu menciptakan keberlanjutan baik bagi lembu putih maupun bagi masyarakat Hindu.
Kegiatan CSR yang sudah dilaksanakan di Konservasi Lembu Putih Taro, antara lain:
a. Pemberian pakan lembu putih setiap 3 bulan
b. Renovasi graha/kandang lembu putih
c. Pemberian bantuan gapura untuk Ekowisata Lembu Putih Taro
d. Pemberian rantai pengikat lembu putih
e. Pemberian 3 lusin baju seragam untuk pengelola Ekowisata Lembu Putih Taro
Pelestarian hewan endemik ini dapat menjadi pengikat antara program pemberdayaan dengan pelestarian kegiatan adat dan keagamaan di Bali. Kegiatan ini juga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar untuk tergabung dalam yayasan yang merawat hewan endemik.