Penyu adalah kura-kura laut yang ditemukan di semua samudra di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145 - 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys telah berenang di laut purba seperti penyu masa kini. Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 - 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising dan cahaya sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang yang digali dengan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut, juga penyu menggunakan magnetism bumi sebagai bantuan untuk kembali ke kampung halamannya ketika saat masih menjadi tukik, dan kembali saat sudah dewasa untuk bertelur.
Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.
Sebagai tempat bertelur penyu biasanya sekarang dibangun stasiun penetasan untuk membantu meningkatkan tingkat kelulushidupan (survival). Di Bali misalnya terdapat stasiun penetasan di Pantai Saba Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Pantai Penimbangan Kecamatan Buleleng dan beberapa pantai di kawasan Bali barat.
Sebagian orang menganggap penyu adalah salah satu hewan laut yang memiliki banyak kelebihan. Selain tempurungnya yang menarik untuk cendramata, dagingnya yang lezat ditusuk jadi Sate penyu berkhasiat untuk obat dan ramuan kecantikan. Terutama di Tiongkok dan Bali, penyu menjadi bulan-bulanan ditangkap, disantap, tergusur dari pantai, telurnya pun diambil. Meski sudah ada Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pelestarian Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang melindungi semua jenis penyu, perburuan terhadap hewan yang berjalan lamban ini terus berlanjut. Untuk mencegah kepunahan penyu, terutama penyu belimbing, beberapa negara telah melindungi tempat bertelur penyu. Salah satunya adalah di Pantai Saba Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar ditetapkan sebagai wilayah konservasi
Pak Kikik adalah seorang nelayan yang berasal dari Desa Saba Kec. Blahbatuh, Kab. Gianyar, Bali. Suatu hari dia melihat segerombolan biawak menggali sebuah lubang yang ternyata sedang memakan anak penyu yang baru menetas saat pulang berlayar. Pak Kikik sangat terkejut, namun sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi karena tukik sudah mati dan seluruh telurnya pun hancur. Beberapa hari kemudian sekembali dari melaut dia kembali melihat hal yang sama, namun kali ini penyu dan telurnya habis dimakan anjing liar disekitar pantai.
Kejadian tersebut membuat Pak Kikik begitu terenyuh, sebagai orang asli Gianyar, ia tahu bahwa penyu tersebut adalah endemik asli Gianyar yang hampir punah. Karenanya setelah kejadian itu, ia bertekad menyelamatkan penyu-penyu tersebut dengan membantu menetaskannya. Pada musim penyu bertelor dia bergerilya seorang diri di pesisir pantai untuk mencari penyu penyu yang bertelor untuk di bawa ke tempat penetasan yang dibuat. Karena banyaknya indukan penyu yang bertelur di pantai saba, dan juga jumlah tukik yang sangat banyak yang berhasil ia tetaskan di rumah, akhirnya pada tahun 2010 Pak Kikik membentuk kelompok konservasi penyu yang didukung Kelian Desa dan Pemda Gianyar.
"Dalam setahun kelompok konservasi penyu ini dapat menyelamatkan 8.160 butir telor dengan tingkat penetasan sebesar 80%" sekarang mereka memiliki sebuah areal penetasan yang di berikan oleh desa adat setempat dengan luas 5 are yang telah di pagari. Di tempat tersebut terdapat 1 buah bak penetasan dengan ukuran 3m X 2m X 1m, mereka juga telah memiliki sebuah bangunan sederhana untuk penampungan tukik yang berisi 6 bak yang masing masing bak menampung tukik sesuai dengan umurnya.
Meskipun demikian, hambatan utama Pak Kikik dan kelompok konservasinya adalah biayar pakan tukik yang cukup mahal. Pak Kikik hanya menghandalkan orang orang yang datang yang mau melepasliarkan tukik ke laut dengan meminta sumbangan sebesar Rp. 50.000,- per tukik, bila tidak ada yang melepas liarkan maka ia menggunakan uang sendiri untuk mensuplai makanan untuk tukik tersebut.Untuk tukik usia 1 bulan, dibutuhkan 1Kg udang untuk 50 ekor tukik sekali makan. Padahal sehari tukik makan 2 kali, pagi dan sore. Masalah lain yang dihadapi adalah fasilitas seperti pompa air bersih, serta pagar yang masih terbuat dari kayu sehingga kadang beberapa anjing berhasil masuk ke dalam tempat konservasi.
Di Tahun 2016 Tim Kehati PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Bali melakukan kerjasama pelepasan tukik dalam even-even tertentu sehingga sering terjadi kumonikasi dengan Kelompok Saba Asri Conservation. Dari kenyataan yang kita amati memang donasi dari pelepasan tukik belum bisa menutupi biaya operasional konservasi ini. Tahun 2017 Tim Kehati PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Bali mulai membantu perlengkapan sarana prasana kebersihan berupa bak sampah dan peralatan kebersihan yang di pergunakan untuk membersikaan arel konservasi. Ditahun 2018 berdasarkan hasil diskusi Tim Comdev melakukan maping di tetapkan sebagai salah satu binaan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Indonesia Power Unit Pembangkitan Bali terkait kebutuhan yang perlu di bantu berupa pompa sirkulasi, pemasangan plang papan, pakan tukik, perbaikan sarana toilet, dan bantuan perlengkapan Administrasi.
Tujuan program Konservasi Tukik Saba Asri adalah untuk melestarikan tukik berbasis pemberdayaan masyarakat. Masyarakat menjadi pengelola konservasi Tukik Saba Asri, hal ini dapat mengurangi angka pengangguran di Desa Saba serta masyarakat memperoleh informasi dan pengetahuan mengenai pelestarian tukik, dan mampu membangun kohesi sosial.
PROSES PERENCANAAN
Proses perencanaan program Konservasi Ekowisata Tukik Saba Asri diawali dengan tahapan identifikasi dan survey awal, FGD Program Konservasi Penyu, sosialisasi program kepada anggota Konservasi Penyu Saba Lestari, penyusunan jadwal aksi kegiatan berdasarkan kearifan lokal.
PELAKSANAAN PROGRAM
Saat ini, program ini sudah mampu menciptakan 1 kelompok yaitu kelompok Saba Asri yang bertugas untuk mengelola Ekowisata. Keberadaan Ekowisata sudah mulai dikenal masyarakat, hal ini dibuktikan dari mulai meningkatnya jumlah pendatang yang memberikan telur tukik ke Ekowisata Saba Asri. Beberapa pengunjung yang datang untuk melepaskan tukik juga mulai meningkat cukup signifikan. Selain itu jumlah pelepasan tukik yang dilakukan juga sudah cukup banyak.
HAMBATAN
Tingkat keberhasilan penetasan telur masih cukup rendah, sehingga jumlah tukik yang siap dilepas juga sedikit. Hal ini menyebabkan pendapatan yang diperoleh pengelola belum maksimal dan belum dapat meningkatkan pendapatan anggota kelompok secara signifikan.
Secara Compass Sustainability, program Konservasi Tukik Saba Asri ini dapat dilihat dari 4 sisi yaitu ekonomi, sosial, lingkungan, dan keberlanjutan. Secara ekonomi, program ini sudah mampu mengurangi pengangguran dengan menjadikan masyarakat sebagai pengelola Konservasi Tukik Saba Asri, selanjutnya ke depannya bisa menambah pendapatan bagi para pengelola. Secara sosial, program ini mampu menciptakan satu kelompok yang di dalamnya terdapat kohesi sosial yakni kelompok pengelola konservasi dan nantinya terbentuk kelompok ibu-ibu pengrajin cangkang telur tukik. Dari sisi lingkungan, program Konservasi Tukik Saba Asri mampu melestarikan keberadaa tukik atau penyu yang apabila tidak dijaga akan menciptakan kepunahan bagi penyu juga selanjutnya dapat menciptakan barang dari hasil cangkang telur tukik. Dilihat dari keberlanjutannya, program Konservasi Tukik Saba Asri ini mampu menciptakan keberlanjutan baik bagi penyu maupun bagi masyarakatnya.
Kegiatan CSR yang sudah dilaksanakan di Konservasi Tukik Saba Asri antara lain:
a. Pemberian sertifikat untuk pengunjung dan relawan
b. Pelatihan manajemen administrasi kelompok
c. Pemberian bantuan balai informasi di lokasi Ekowisata
d. Pemberian bantuan sumur air laut untuk Ekowisata Tukik Saba Asri
e. Pemberian fasilitas kantin Ekowisata Tukik Saba Asri
f. Pemberian souvenir Ekowisata Tukik Saba Asri
g. Pemberian bantuan pembangunan spot selfie
h. Pemberian bantuan pembangunan kolam penetasan telur
i. Pendampingan perawatan dan pelestarian tukik bersama WWF
j. Pemberian 1 lusin baju seragam
Upaya penyelamatan lingkungan dapat dilakukan bebarengan dengan pemberdayaan masyarakat salah satu contoh keberhasilannya yaitu pada program Ekowisata Tukik Saba Asri. Konservasi penyu yang dilakukan mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi kelompok Saba Asri. Koservasi dan pemberdayaan dapat berjalan beriringan.