Sekehe Srati Yadnya Santhi Banjar Ambengan Kelurahan Pedungan Kecamatan Denpasar Selatan

Community Development

Secara Compass Sustainability, program Sekehe Srati Yadnya Santhi Banjar Ambengan ini dapat dilihat dari 4 sisi yaitu ekonomi, sosial, lingkungan, dan keberlanjutan. Secara ekonomi, program ini sudah mampu mengurangi pengangguran dengan menjadikan ibu-ibu dari Banjar Ambengan sebagai pengelola Sekehe Srati Yadnya Santhi Banjar Ambengan, selanjutnya ke depannya bisa menambah pendapatan bagi para pengelola. Secara sosial, program ini mampu menciptakan satu kelompok yang di dalamnya terdapat kohesi sosial yakni kelompok pengelola Srati Banten. Dari sisi lingkungan, program Sekehe Srati Yadnya Santhi Banjar Ambengan tidak menunjukkan ada hubungan dengan lingkungan tetapi hanya dengan budaya. Dilihat dari keberlanjutannya, program Sekehe Srati Yadnya Santhi Banjar Ambengan mampu menciptakan keberlanjutan bagi Banten yang menjadi sarana upakara masyarakat Bali yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Banten adalah sarana upakara yang digunakan sebagai alat bantu pemujaan yang menjadi simbol keagamaan. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali tidak telepas dari Banten. Setiap sembahyang selalu menggunakan Banten. Di setiap upacara adat pun juga menggunakan Banten. Pembuatan Banten disesuaikan dengan Yadnya yaitu acara sembahan. Yadnya terdapat 5 jenis yaitu; Pertama, Dewa Yadnya, di dalamnya terdapat berbagai macam jenis Banten yang dilakukan tetapi yang biasa dilakukan adalah Banten Saeban (untuk bersyukur setelah masak, sebelum makan dengan memberikan sebagian hasil masakan untuk mengucapkan rasa syukur, dilakukan setiap hari). Kedua, Resi Yadnya yaitu acara dari lahir sampai dewasadan memperlajari ilmu keagamaan dan disucikan oleh masyarakat kemudian dianggat sebagai sulinggih (pendeta) dan di upacarai mati raga.

Ketiga, Manusia Yadnya yaitu Kelahiran yang di dalamnya terdapat berbagai jenis Banten antara lain: banten Negedong-gedongan (masih dalam kandungan), Banten Ketus Pungset (setelah bayi lahir dan putus tali pusat), Banten 3 bulanan, Banten 6 bulanan, Banten Otonan, Banten Potong Gigi (setelah dewasa), Banten Pernikahan. Keempat, Pitra Yadnya yaitu Kematian yang didalamnya terdapat berbagai macam acara yang dilakukan dengan menggunakan Banten juga antara lain: Banten Pengabenan (roh masih di rumah duka, belum ditempat suci), Banten Nyekah (roh yang sudah di aben dipanggil lagi kemudian diupacarai), Banten Memukur (sekah yang sudah diupacarai tadi sudah ke nirwana, sesuai dengan amal kebaikan masing-masing). Kelima, Banten Caru, dilakukan tergantung dari kondisi saat terjadi kejadian yang negative seperti musibah kebakaran, pembunuhan, kecelakaan agar hal yang negative tersebut menjadi positif kembali.

Dalam proses pembuatan Banten ada beberapa aturan yang harus dilakukan oleh Srati (orang pembuat Banten), yaitu tidak boleh cacat fisik, tidak boleh saat datang bulan, harus pakai anteng/amed (selendang buat ikat pinggang) dank amen (kain). Semua masyarakat bali pasti bisa membuat Banten. Akan tetapi, tidak semua dapat menguasainya karena jenis Banten bermacam-macam dan ada jenis Banten yang hanya bisa dibuat oleh Sulinggih atau Pendeta yaitu Banten Dewa Dewi.

Program ini untuk memberdayakan ibu-ibu yang tergabung dalam sebuah Kelompok Srati Banten untuk membuat Banten karena melihat peluang ekonomi yang bias didapatkan karena harga Banten bermacam-macam mulai dari puluhan ribu bahkan ratusan juta. Meskipun untuk sekarang ini pesanan yang diterima oleh Kelompok Srati Banten masih minim karena belum semua anggota kelompok yang bisa membuat Banten yang mencapai harga tinggi. Untuk Pelatihan yang dilakukan juga tidak bisa direncakan kapan untuk dilakukan pelatihan tetapi saat ada acara yang membutuhkan Banten dan Kelompok mendapatkan pesanan tersebut, maka akan dipanggil pelatih yang langsung mengajarkan secara praktek saat itu juga. Hal ini karena memang tidak bisa sembarangan membuat Banten dan bahan yang diperlukan cukup banyak yang pastinya membutuhkan dana yang besar pula.