Konservasi Lembu Putih Taro

Community Development

PT PLN Indonesia Power UBP Bali menjadikannya sebagai salah satu binaan CSR, sebagai upaya terus melestarikan hewan endemik Bali dengan memberdayakan masyarakat desa setempat dan menjadikan Konservasi Lembu Putih Taro sebagai destinasi wisata Bali. Saat ini ada 8 orang bertugas mengelola Konservasi Lembu Putih Taro. Bantuan PT PLN Indonesia Power UBP Bali di bidang CSR dimulai pada tahun 2018. Bantuan yang diberikan adalah Viar yang dapat digunakan untuk mempermudah pengelola mengangkut pakan lembu putih taro, konsentrat pakan lembu, dan papan informasi di Konservasi Lembu Putih.

Secara Compass Sustainability, program Konservasi Lembu Putih Taro ini dapat dilihat dari 4 sisi yaitu ekonomi, sosial, lingkungan, dan keberlanjutan. Secara ekonomi, program ini sudah mampu mengurangi pengangguran dengan menjadikan masyarakat sebagai pengelola Konservasi Lembu Putih Taro, selanjutnya ke depannya bisa menambah pendapatan bagi para pengelola dengan penjualan kompos, biogas maupun biourin. Secara sosial, program ini mampu menciptakan satu kelompok yang di dalamnya terdapat kohesi sosial yakni kelompok pengelola konservasi. Dari sisi lingkungan, program Konservasi Lembu Putih Taro mampu melestarikan keberadaa lembu puih yang apabila tidak dijaga akan menciptakan kepunahan. Dilihat dari keberlanjutannya, program Konservasi Lembu Putih Taro ini mampu menciptakan keberlanjutan baik bagi lembu putih maupun bagi masyarakat Hindu.

Di bali, terdapat salah satu hewan yang dianggap suci yakni lembu putih. Lembu putih merupakan salah satu hewan endemik bali yang hanya terdapat di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Lembu putih disakralkan oleh umat Hindu di Bali dan diyakini sebagai kendaraan Dewa Siwa.

Lembu putih diperlukan dalam suatu upacara tertentu, seperti upacara mapada, memkur dan lainnya. Dalam upacara tersebut yang diambil dari lembu putih adalah air susunya, air liurnya, air seninya dan juga kotorannya. Sebelumnya lembu putih hidup bebas, mencari makan sendiri. Sehingga pada suatu waktu saat kekurangan pakan, banyak lembu yang mati. Karena merupakan hewan sakral sehingga tidak ada yang berani membuat memelihara secara pribadi, sehingga dibuat Yayasan Lembu Putih Taro. Yayasan Lembu Putih Taro ini dibuat agar lembu putih bisa lebih terjaga dan melestarikan hewan sakral. Saat ini, di Konservasi Lembu Putih ada 51 ekor lembu putih.

Rencana kegiatan CSR di Konservasi Lembu Putih Taro selanjutnya adalah perawatan lingkungan konservasi dan kesehatan lembu putih juga promosi untuk mendorong tujuan menjadi destinasi wisata Bali, kegiatan pemberdayaan masyarakat yakni melakukan pembuatan kompos, pembuatan biogas dan bio urin yang dilakukan oleh pengelola Konservasi Lembu Putih Taro. Jika hasilnya bisa cukup banyak bisa dipasarkan ke eksternal sehingga mampu menambah pendapatan bagi masyarakat desa yang menjadi pengelola.