Hasil Absolut per Tahun (pohon)
| Tahun | Hasil Absolut (Pohon) | Anggaran (Rp 000) |
|---|---|---|
| 2022 | Program belum berjalan | |
| 2023 | Program belum berjalan | |
| 2024 | Program belum berjalan | |
| 2025 | 600 | 22.080 |
| 2026 | 800 | 22.080 |
*Data hingga Juni 2026.
Kawasan Wisata Hutan Bambu Sandan di Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, merupakan contoh nyata keberhasilan program konservasi berbasis komunitas yang dikembangkan secara berkelanjutan. Kawasan ini awalnya merupakan bukit gundul yang rentan terhadap erosi dan kehilangan fungsi ekologisnya. Melalui upaya bersama masyarakat, pemerintah desa, dan dukungan berbagai pihak, kawasan ini mulai direhabilitasi dengan menanam bambu sebagai tanaman utama. Bambu dipilih bukan hanya karena pertumbuhannya yang cepat dan kemampuannya beradaptasi pada lahan marginal, tetapi juga karena perannya yang vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem, mulai dari penyerapan karbon, penyimpanan air, hingga pengikatan tanah.
Kegiatan pelestarian di Hutan Bambu Sandan tidak berhenti pada konservasi ekologi semata, melainkan juga dikembangkan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) oleh PT PLN Indonesia Power UBP Bali. Program ini meliputi penanaman dan pelabelan bibit bambu, pelatihan masyarakat dalam pengolahan bambu menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti kerajinan, mebel, briket arang, hingga media tanam dari limbah bambu. Limbah daun bambu yang dulunya terbuang kini dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau media pembibitan, sehingga mendukung prinsip ekonomi sirkular. Selain itu, kawasan ini juga diarahkan menjadi eduwisata lingkungan, di mana masyarakat dan pengunjung dapat belajar langsung tentang bambu, keanekaragaman hayati, serta manfaat konservasi bagi kehidupan sehari-hari.
Dalam pengelolaannya, Hutan Bambu Sandan melibatkan kolaborasi multipihak. Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Kerta Lestari berperan sebagai pengelola utama yang memastikan keberlanjutan kegiatan konservasi dan wisata. Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) mendukung melalui pelatihan geotagging, pendampingan teknis, dan edukasi masyarakat. Kagama Bali berkontribusi dalam memperkaya koleksi bambu sekaligus mengembangkan potensi wisata dan komoditas unggulan.
Manfaat kegiatan di Hutan Bambu Sandan kini dirasakan luas. Secara ekologis, kawasan ini berfungsi sebagai daerah resapan air, pengendali erosi, penyimpan karbon, dan habitat satwa liar. Secara ekonomi, masyarakat sekitar memperoleh peluang usaha baru dari pengolahan bambu, baik untuk pasar lokal maupun wisatawan, yang mencakup kerajinan, furnitur, hingga produk konsumsi seperti rebung. Secara sosial, kawasan ini menjadi ruang pemberdayaan komunitas desa dan pelestarian kearifan lokal yang memandang bambu sebagai bagian penting dari budaya Bali, termasuk dalam ritual keagamaan. Dari sisi wisata, Hutan Bambu Sandan berkembang menjadi destinasi ekowisata yang menawarkan pengalaman alam sekaligus edukasi lingkungan, memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata Bali yang berkelanjutan.
Dengan beragam kegiatan tersebut, Hutan Bambu Sandan tidak hanya menjadi kawasan konservasi bambu, tetapi juga laboratorium hidup untuk pembelajaran lingkungan, ruang pemberdayaan masyarakat, serta contoh nyata sinergi antara pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi lokal, asalkan dikelola secara kolaboratif, berbasis komunitas, dan berorientasi pada keberlanjutan lintas generasi.
- Nama Program
- THOR (Thermo Bamboo Monitoring)
- Tujuan
- Ekowisata Hutan Bambu sebagai Upaya Perluasan Ekosistem di Kawasan Wisata Hutan Bambu Sandan
- Sasaran
- Peningkatan ekosistem di area vegetasi Bambu
- Tahun
- 2025, 2026
- Jenis
- Kegiatan yang Berkaitan dengan Community Development
- Anggaran
- Rp 22.080.000,00 (2025)
Rp 22.080.000,00 (2026)



